Gizi Seimbang bagi Ibu Hamil

gizi-ibu-hamil

Ibu hamil membutuhkan zat gizi yang lebih banyak dibandingkan   dengan keadaan tidak hamil. Hal ini disebabkan karena selain  untuk ibu zat gizi dibutuhkan bagi janin.  Janin tumbuh dengan mengambil zat-zat  gizi dari makanan yang dikonsumsi oleh ibu dan dari simpanan zat gizi yang berada di dalam tubuh ibu. 

Selama  hamil  seorang  ibu  harus  menambah  jumlah  dan  jenis    makanan  yang  dimakan untuk mencukupi kebutuhan pertumbuhan bayi dan kebutuhan ibu yang sedang mengandung bayi serta untuk memproduksi ASI. 

Pembahasan tentang Gizi Seimbang untuk Ibu Hamil ini masih merupakan bagian dari pembahaasan tentang Pedoman Gizi Seimbang yang telah diatur dan tertuang dalam Permenkes RI No 41 Tahun 2014 tentang Gizi Seimbang.

Kebutuhan Gizi Ibu Hamil

Kehamilan merupakan masa kritis di mana gizi ibu yang baik adalah faktor penting yang mempengaruhi  kesehatan  ibu  dan  anak.  Ibu  hamil  bukan  hanya  harus  dapat memenuhi kebutuhan  zat  gizi  untuk  dirinya  sendiri,  melainkan  juga  untuk  janin  yang  dikandung.  Risiko komplikasi  selama  kehamilan  atau  kelahiran  paling  rendah  bila  pertambahan  berat  badan sebelum melahirkan memadai.

Oleh karena itu Gizi Seimbang untuk ibu hamil harus memenuhi kebutuhan gizi untuk dirinya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan janin. Prinsip pertama Gizi Seimbang yaitu mengonsumsi anekaragam pangan secara seimbang jumlah dan proporsinya tetap diterapkan.

Kebutuhan  gizi  untuk  ibu  hamil  mengalami  peningkatan  dibandingkan  dengan  ketika tidak  hamil.  Bila  kebutuhan  energi  perempuan  sebelum  hamil  sekitar  1.900  kkal/hari  untuk usia  19—29  tahun  dan  1.800  kkal  untuk  usia  30—49  tahun,  maka  kebutuhan  ini  akan bertambah sekitar 180 kkal/hari pada trimester I dan 300 kkal/hari pada trimester II dan III. Demikian  juga  dengan  kebutuhan  protein,  lemak,  vitamin  dan  mineral,  akan  meningkat selama  kehamilan.  Berikut  Tabel  2.1  Angka  Kecukupan  Gizi  Rata-Rata  (AKG,  2004)  yang dianjurkan (per orang per hari) bagi ibu hamil usia 19—29 tahun dengan BB/TB 52 kg/156 cm dan ibu hamil usia 30—49 tahun dengan BB/TB 55 kg/156 cm.

Risiko Gizi Tidak Mencukupi

Bila makanan ibu sehari-hari tidak cukup mengandung zat gizi yang  dibutuhkan, seperti  sel  lemak  ibu  sebagai  sumber  kalori;  zat  besi dari  simpanan  di  dalam  tubuh  ibu  sebagai  sumber  zat  besi  janin/bayi, maka  janin  atau  bayi  akan  mengambil  persediaan  yang  ada  didalam  tubuh  ibu.  Kekurangan gizi yang terjadi di masa kehamilan akan menimbulkan kerusakan awal pada kesehatan, perkembangan otak, kecerdasan, kemampuan sekolah, dan  daya  produksi  yang  bersifat  menetap,  tidak  dapat  diperbaiki.

Demikian  juga  beberapa  zat  gizi  tertentu  tidak disimpan di dalam tubuh seperti Vitamin C dan vitamin B yang banyak  terdapat  di  dalam  sayuran  dan  buah-buahan.  Sehubungan hal  tersebut, ibu  harus  mempunyai  status  gizi  yang  baik  sebelumhamil dan mengonsumsi anekaragam pangan, baik proporsi maupun jumlahnya.

Selain itu kondisi ini dapat diperburuk oleh beban kerja ibu hamil yang biasanya sama atau lebih berat dibandingkan dengan saat sebelum hamil. Akibatnya, bayi tidak mendapatkan zat gizi yang dibutuhkan, sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya.

Konsumsi Aneka Ragam Pangan

Ibu  Hamil  perlu  mengonsumsi aneka  ragam  pangan  yang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan energi, protein dan zat gizi   mikro (vitamin dan mineral) karena   digunakan untuk pemeliharaan, pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan  serta  cadangan  selama masa  menyusui. Zat  gizi  mikro  penting  yang  diperlukan  selama  hamil  adalah zat besi,asam folat, kalsium, iodium dan zink.

Kebutuhan protein selama kehamilan meningkat. Peningkatan kebutuhan ini untuk pertumbuhan janin dan untuk mempertahankan   kesehatan ibu. Sangat   dianjurkan   untuk mengonsumsi pangan  sumber protein hewani seperti ikan, susu dan telur.

Kebutuhan Zat Besi

Pada ibu hamil, kebutuhan zat besi lebih  tinggi  daripada  sebelum  hamil,  oleh  karena  dibutuhkan  untuk  meningkatkan massa hemoglobin  karena  adanya  penambahan massa  tubuh  ibu  (plasenta, payudara, pembesaran uterus, dan lain-lain) dan janin. Kebutuhan   tambahan   total   selama kehamilannya, diperkirakan 1.000 mg. 

Kekurangan zat   besi dapat mengganggu pembentukan  sel  darah  merah,  sehingga  terjadi  penurunan  hemoglobin.  Selanjutnya, dapat  menyebabkan  penurunan  kadar  oksigen  di  jaringan.  Akibatnya,  jaringan  tubuh ibu hamil dan  janin  mengalami    kekurangan    oksigen,    sehingga    menurunkan kemampuan  kerja  organ-organ  tubuhnya.

Bahan  makanan  sumber zat  besi  yang  terbaik  adalah  makanan  yang  berasal  dari sumber  hewani  seperti  daging  dan  hati. Zat  besi  yang  berasal  dari  sumber makanan  nabati,  misalnya  serealia,  kacang-kacangan,  dan  sayuran  hijau,  namun agar  dapat  diserap  dengan  baik  harus  dikonsumsi  bersama-sama dengan  sumber  protein  hewani,  seperti  daging,  atau  sumber  vitamin  C,  seperti  buah-buahan.

Kebutuhan Asam Folat

Asam Folat Asam folat termasuk dalam kelompok vitamin B.   Jumlah  yang  dibutuhkan hingga trimester akhir kehamilan   adalah 0,4 mg/hari per orang. Idealnya, zat gizi ini dikonsumsi  sebelum  ibu  mengalami kehamilan.  Asupan  asam  folat  pada  saat  telah hamil,  biasanya  sudah  terlambat  untuk  mencegah  terjadinya  kelainan  yang  disebut “neural tube defect”  a.l. spina bifida (sumsum tulang belakang yang terbuka) dan anencephalus  (tidak  memiliki  batok  kepala), mengingat  perkembangan  susunan  saraf pusat, terutama terjadi dalam 8 minggu pertama kehamilan. Sumber asam folat antara lain sayuran berwarna hijau seperti brokoli dan bayam, telur, dan daging.

Kebutuhan Kalsium

Kalsium  dibutuhkan  untuk  pembentukan  tulang  dan  sel-selnya.  Jika  kebutuhannya kurang terpenuhi, janin akan mengambil cadangan kalsium dari tulang ibu. Jumlah  kebutuhan  kalsium  bagi  ibu hamil  sendiri  sebesar  1.000  mg/hari  selama  kehamilan.  Sumber  kalsium  antara  lain telur, susu, keju, mentega, daging, ikan, dan bayam.

Kebutuhan Air Putih

Air merupakan cairan yang paling baik untuk hidrasi tubuh secara optimal. Air berfungsi  membantu pencernaan, membuang racun, sebagai penyusun sel dan darah, mengatur keseimbangan asam basa tubuh, dan mengatur suhu tubuh. Kebutuhan  air  selama  kehamilan  meningkat  agar  dapat  mendukung   sirkulasi   janin,   produksi   cairan   amnion   dan   meningkatnya  volume  darah.  Ibu  hamil  memerlukan  asupan  air minum sekitar 2-3 liter perhari (8 – 12 gelas sehari).

Batasi Minum Kopi

Kafein bila dikonsumsi oleh ibu hamil akan mempunyai efek diuretic  dan  stimulans.  Oleh  karenanya  bila  ibu  hamil  minum  kopi  sebagai  sumber  utama  kafein  yang  tidak  terkontrol,  akan  mengalami   peningkatan   buang   air   kecil   (BAK)   yang   akan   berakibat dehidrasi, tekanan darah meningkat dan detak jantung juga  akan  meningkat. 

Pangan  sumber  kafein  lainnya  adalah  coklat,  teh  dan  minuman  suplemen  energi. Satu  botol  minuman  suplemen  energi  mengandung  kafein  setara  dengan  1-2  cangkir kopi. Disamping  mengandung  kafein,  kopi  juga  mengandung  inhibitor  (zat  yang  mengganggu  penyerapan  zat  besi) Konsumsi kafein pada ibu hamil juga akan berpengaruh pada pertumbuhan dan   perkembangan   janin,   karena   metabolisme janin   belum   sempurna.

Dalam konteks gizi seimbang, ibu hamil juga dituntut untuk tetap melakukan aktifitas fisik, menjaga kebersihan, dan memonitor berat badan. Dengan aktifitas fisik maka peredaran  darah  akan  lebih  lancar  dan  pengiriman oksigen  ke  seluruh  jaringan  tubuh  akan  lebih  baik,  sehingga  kebugaran  tubuh  terjaga  dan daya  tahan  tubuh  meningkat. Kebersihan sangat penting terutama kebersihan gigi dan mulut; untuk mencegah terjadinya Gangguan Kesehatan Gigi dan Mulut yang dapat menyebabkan gangguan dalam konsumsi makanan dan asupan gizi dengan baik.

Referensi :

  1. Permenkes RI No 41 Tahun 2014 tentang Gizi Seimbang
  2. Gizi Dalam Daur Kehidupan; Pritasari, Didit Damayanti, Nugraheni Tri Lestari, Tahun 2017, Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan; Kementrian Kesehatan RI

Baca Juga :

  1. Biasakan minum air putih yang cukup dan aman
  2. Pentingnya Informasi Obat untuk Kesembuhan