Artikel

Pemberian ASI Eksklusif

pemberian-asi-eksklusif-bayi

Air Susu Ibu Eksklusif yang selanjutnya disebut ASI Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada Bayi sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, tanpa menambahkan dan/atau mengganti dengan makanan atau minuman lain.

Air Susu Ibu yang selanjutnya disingkat ASI adalah cairan hasil sekresi kelenjar payudara ibu. Berdasarkan regulasi bahwa setiap ibu yang melahirkan harus memberikan ASI Eksklusif kepada Bayi yang dilahirkannya.

Pemberian ASI Ekslusif

Pola pemberian makan terbaik untuk Bayi sejak lahir sampai anak berumur 2 (dua) tahun meliputi:
(a) memberikan ASI kepada Bayi segera dalam waktu 1 (satu) jam setelah lahir;
(b) memberikan hanya ASI saja sejak lahir sampai umur 6 (enam) bulan.

Hampir semua ibu dapat dengan sukses menyusui diukur dari permulaan pemberian ASI dalam jam pertama kehidupan Bayi.

Manfaat Menyusui

Menyusui menurunkan risiko infeksi akut seperti diare, pnemonia, infeksi telinga, haemophilus influenza, meningitis dan infeksi saluran kemih. ASI penting bagi kesehatan Ibu dan Anak; antara lain karena ASI mengandung zat gizi paling sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi; menyusui dapat mendekatkan ikatan emosional antara Ibu dan Bayi, dll.

Menyusui juga melindungi Bayi dari penyakit kronis masa depan seperti diabetes tipe 1. Menyusui selama masa Bayi berhubungan dengan penurunan tekanan darah dan kolesterol serum total, berhubungan dengan prevalensi diabetes tipe 2 yang lebih rendah, serta kelebihan berat badan dan obesitas pada masa remaja dan dewasa.

Menyusui menunda kembalinya kesuburan seorang wanita dan mengurangi risiko perdarahan pasca melahirkan, serta :

  1. mengurangi risiko kanker payudara,
  2. mengurangi pra menopause dan kanker ovarium;
  3. dapat memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat sejak genap umur 6 (enam) bulan; 
  4. dapat meneruskan pemberian ASI sampai anak berumur 2 (dua) tahun.

Penerapan pola pemberian makan ini akan meningkatkan status gizi Bayi dan anak serta mempengaruhi derajat kesehatan selanjutnya.

Kandungan Dalam ASI

Kadar Imunoglobulin A (IgA) dalam ASI tetap tinggi dari hari ke 10 sampai setidaknya 7,5 bulan pascapersalinan. Imunoglobulin A berfungsi sebagai antibodi; dalam bentuk sekresinya IgA merupakan garis pertahanan pertama terhadap berbagai macam patogen yang masuk dalam tubuh.

ASI mengandung 0,8% hingga 0,9% protein, 4,5% lemak, 7,1% karbohidrat, dan 0,2% abu (mineral). Karbohidrat utamanya adalah laktosa ; beberapa oligosakarida berbasis laktosa telah diidentifikasi sebagai komponen minor. Fraksi lemak mengandung trigliserida spesifik dari asam palmitat dan oleat (OPO trigliserida), dan juga lipid dengan ikatan trans (lihat: lemak trans ). Lipid adalah asam vaksenat , dan asam linoleat terkonjugasi (CLA) terhitung hingga 6% dari lemak susu manusia.

Protein utama adalah alfa- laktalbumin , laktoferin (apo-laktoferin), IgA , lisozim , dan albumin serum . Dalam lingkungan asam seperti lambung , alfa-laktalbumin terungkap menjadi bentuk yang berbeda dan mengikat asam oleat untuk membentuk kompleks yang disebut HAMLET yang membunuh sel tumor . Hal ini dianggap berkontribusi pada perlindungan bayi yang disusui dari kanker.

Faktor Bayi Tidak Diberikannya ASI Ekslusif

Kondisi medis Bayi yang tidak memungkinkan pemberian ASI Ekslusif antara lain:
a. Bayi yang hanya dapat menerima susu dengan formula khusus, yaitu Bayi dengan kriteria:

  1. Bayi dengan galaktosemia klasik, diperlukan formula khusus bebas galaktosa;
  2. Bayi dengan penyakit kemih beraroma sirup maple (maple syrup urine disease), diperlukan formula khusus bebas leusin, isoleusin, dan valin; dan/atau
  3. Bayi dengan fenilketonuria, dibutuhkan formula khusus bebas fenilalanin, dan dimungkinkan beberapa
    kali menyusui, di bawah pengawasan.

b. Bayi yang membutuhkan makanan lain selain ASI selama jangka waktu terbatas, yaitu:

  1. Bayi lahir dengan berat badan kurang dari 1500 (seribu lima ratus) gram (berat lahir sangat rendah);
  2. Bayi lahir kurang dari 32 (tiga puluh dua) minggu dari usia kehamilan yang sangat prematur; dan/atau
  3. Bayi baru lahir yang berisiko hipoglikemia berdasarkan gangguan adaptasi metabolisme atau peningkatan kebutuhan glukosa seperti pada Bayi prematur, kecil untuk umur kehamilan atau yang mengalami stress iskemik/intrapartum hipoksia yang signifikan, Bayi yang sakit dan Bayi yang memiliki ibu pengidap diabetes, jika gula darahnya gagal merespon pemberian ASI baik secara langsung maupun tidak langsung.

Faktor Ibu Tidak Memberikan ASI Ekslusif

Kondisi medis ibu yang tidak dapat memberikan ASI Eksklusif karena harus mendapat pengobatan sesuai dengan standar; antara lain:
a. ibu yang dapat dibenarkan alasan tidak menyusui secara permanen karena terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Dalam kondisi tersebut, pengganti pemberian ASI harus memenuhi kriteria, yaitu dapat diterima, layak, terjangkau, berkelanjutan, dan aman (acceptable, feasible, affordable, sustainable, and safe). Kondisi tersebut bisa berubah jika secara teknologi ASI Eksklusif dari ibu terinfeksi Human Immunodeficiency Virus dinyatakan aman bagi Bayi dan demi untuk kepentingan terbaik Bayi. Kondisi tersebut juga dapat diberlakukan bagi penyakit menular lainnya;

b. ibu yang dapat dibenarkan alasan menghentikan menyusui sementara waktu karena:

  1. penyakit parah yang menghalangi seorang ibu merawat Bayi, misalnya sepsis (infeksi demam tinggi hingga tidak sadarkan diri);
  2. infeksi Virus Herpes Simplex tipe 1 (HSV-1) di payudara; kontak langsung antara luka pada payudara ibu dan mulut Bayi sebaiknya dihindari sampai semua lesi aktif telah diterapi hingga tuntas;

c. pengobatan ibu:

  1. obat–obatan psikoterapi jenis penenang, obat anti–epilepsi dan opioid dan kombinasinya dapat menyebabkan efek samping seperti mengantuk dan depresi pernapasan dan lebih baik dihindari jika alternatif yang lebih aman tersedia;
  2. radioaktif iodine–131 lebih baik dihindari mengingat bahwa alternatif yang lebih aman tersedia, seorang ibu dapat melanjutkan menyusui sekitar 2 (dua) bulan setelah menerima zat ini;
  3. penggunaan yodium atau yodofor topikal misalnya povidone–iodine secara berlebihan, terutama pada luka terbuka atau membran mukosa, dapat menyebabkan penekanan hormon tiroid atau kelainan elektrolit pada Bayi yang mendapat ASI dan harus dihindari; dan
  4. sitotoksik kemoterapi yang mensyaratkan seorang ibu harus berhenti menyusui selama terapi.

Referensi :

  1. Peraturan Pemerintah No 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif
  2. Wikipedia.

Baca Juga :

  1. Penyakit Tiroid, Gejala, Penyebab dan Pencegahannya
  2. Mengenal, Penyakit Tular Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit